Thursday, October 05, 2006

Roger Kornberg Pemenang Hadia Nobel Bidang Kimia


4 Oktober 2006

Hadiah bidang kimia untuk tahun ini diperoleh oleh seorang ilmuwan Amerika, Roger D. Kornberg. Ia memenangkan hadiah tersebut atas keberhasilannya dalam studinya seputar bagaimana sel-sel menerima petunjuk dari gen untuk menghasilkan protein. Proses yang disebut sebagai transcription itu terdapat pada banyak kasus penyakit manusia seperti kanker, jantung dan peradangan. Kornberg adalah orang pertama yang membuat gambaran nyata proses ini pada tingkat molekul dalam kelompok organisme. Ayah dari Kornberg juga pernah menerima hadiah Nobel pada tahun 1959, yaitu atas studi mereka tentang bagaimana keterangan genetikan disampaikan dari satu molekul DNA ke molekul lainnya.

Friday, September 22, 2006

Selamat Jalan Dido Guminda Sakti

Selamat jalan kawan, namamu selalu saya ingat, Dido Guminda Sakti. Terakhir engkau mengirimkan saya e-mail, mengenai perkembangan politik saat ini. Rupanya kamu masih suka berurusan dengan politik.
Saya juga punya hutang dengan kamu, ketika kamu menginginkan kumpul-kumpul dengan kawan-kawan lama.
Saya ingat, waktu itu saya berjanji bulan September di tahun 2005 untuk mengumpulkan kawan-kawan se Faultas. Hanya saja, waktu dan pekerjaan sangat menyita waktu saya, sehingga sampai saat ini rencana tersebut belum juga terwujud, maafkan. Engkau telah memberi inspirasi kepada saya, mengenai pentingnya beroraganisasi, dan berpolitik. Saya juga senang, jika ternyata diam-diam Anda juga menghargai pemikiran-pemikiran saya. Saat kuliah dulu, sebetulnya ingin bergabung dengan kawan-kawan, ketika ingin berontak terhadap rejim yang berkuasa saat itu. Hanya saja, saat itu saya masih sibuk berjuang untuk mempertahankan dan berjuang untuk diri sendiri, agar segera lulus kuliah dan tanpa membayar SPP. Saya memang pecundang, tetapi saya mempunyai pemikiran yang lain. Bagaimana mungkin saya memperjuangkan orang banyak, sementara untuk memperjuangkan diri sendiri saja sudah kewalahan.
Namun demikian apa yang Anda lakukan, saya juga ikut senang, walaupun dalam beberapa hal saya juga tidak pada posisi yang pro, karena beberapa kawan yang ikut dengan Anda ternyata penganut sektarian. Tetapi saya pikir itu bukan pikiran Anda. Hanya saja, beberapa kawan yang ingin mencari popularitas dengan mencari tema-tema yang dipaksakan. Anda adalah seorang demokrat.
Selamat jalan kawan, namamu akan selalu saya kenang.

Kartu ATM Tidak Lagi Aman

Ternyata tidak sulit membobol mesin-mesin ATM. Paling tidak begitulah pengalaman Law Aik Meng (Warga Negara Malaysia) yang telah berhasil menggasak sejumlah ATM di Singapore sejak 24 May – 29 Juni 2006 (Analisas, 21 September 2006). Kasus serupa pernah terjadi di bulan Juli 2006 yang lalu, yang dilakukan oleh seorang warga Inggris yang juga menggasak uangnya di Singapore.

Modusnya terbilang sangat sederhana ditambah sedikit kreatifitas. Yaitu dengan memasang card skimmer, yang berfungsi mencatat informasi kartu ATM yang dimasukkan ke dalam mesin ATM. Dan kamera kecil (pinhole) untuk merekam nomor PIN yang dimasukkan pemilik ATM.
Dengan data tersebut dibuatlah kartu klonning yang persis sama dengan kartu ATM aslinya. Kartu klonning inilah yang akan digunakan untuk menggasak mesin-mesin ATM.

Timbul pertanyaaan adalah jika kartu ATM menjadi tidak aman, kemanakah arah evolusi pekembangan teknologi ini bergerak? Hal ini mengingatkan saya pada sebuah Kitab Revelation 19. Alih-alih mengatasnamakan keamanan, kartu ATM nantinya tidak akan dipergunakan lagi. Dan sebagai gantinya adalah sebuah microchip yang diimplantasikan ke dalam organ tubuh manusia, yaitu kening atau tangan. Sepertinya praktis dan aman. Tetapi secara tidak sadar, nampaknya kita sedang digiring menuju, siapa mengendalikan siapa. Pada akhirnya kita memang tidak bisa mengelak, karena atas nama keamanan tadi kita tidak bisa berbuat apa-apa, selain menyerah pada situasi dan keadaan. 666 adalah sebuah tanda yang disembunyikan pada setiap microchip dan barcode.

Hanya orang yang memiliki tanda itulah pada akhirnya bisa bertransaksi. Jika tidak, mereka tidak bisa membeli walaupun punya uang. Dan mereka tidak bisa menjual walaupun punya barang. Saat ini seluruh barang yang dijual di supermarket, tidak ada lagi yang tidak berbarcode dengan angka 666. Di beberapa Negara yang sudah maju secara ekonomi, penandaan ini sudah dimulai. Sementara di Indonesia tinggal selangkah lagi.

Medan, 22 September 2006

Tuesday, March 21, 2006

Menyoal Hasil Penelitian Kottelat dkk


Oleh : Hari Jonathan

Sebulan yang lalu, kita sempat digemparkan atas penemuan ikan terkecil di dunia di rawa-rawa gambut daerah Sumatra oleh tim ilmuwan dari Eropa dan Singapura. Para ilmuwan mempublikasikan temuan mereka dalam Proceedings of The Royal Society B, yang terbit di Inggris, Rabu (25/1/2006). Penemuan ini sudah tentu memberi sumbangan yang sangat berharga bagi ilmu pengetahuan, sekaligus menambah daftar inventaris keanekaragaman hayati Indonesia.

Artikel yang berjudul “Paedocypris, a new genus of Southeast Asian cyprinid fish with a remarkable sexual dimorphism, comprises the world's smallest vertebrate” ini
ditulis oleh : Maurice Kottelat dan Tan Heok Hui yang berasal dari Raffles Museum of Biodiversity Research, Universitas Nasional Singapura dan dibantu oleh Ralf Britz dari National Museum of Natural History Inggris dan Kai-Erik Witte dari Max Planck Institute for Developmental Biology, Jerman. Berbeda dengan laporan yang dipublikasikan oleh beberapa media online, penelitian yang dilakukan di Indonesia tersebut ternyata sama sekali tidak melibatkan peneliti Indonesia.
Ikan yang diberi nama ilmiah Paedocypris progenetica oleh penemunya ini memiliki ciri tubuh yang transparan dan otak yang tidak memiliki tulang pelindung sehingga tampak dari luar.
Berbadan tipis dan bermata seperti manik-manik. Ikan ini memiliki sirip berotot seperti pengait yang dapat didorong maju. Sampai saat ini fungsi sirip tersebut masih mengundang tanda tanya, apakah untuk menjerat ataukah untuk menggiring telur dan menyimpannya di tempat yg aman. Sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.
Pada ikan betina memiliki kepala yg lebih lebar sedangkan yang jantan memiliki fisik yang lebih mencolok, dengan sirip belakang sangat besar dan diselimuti kulit keras.
Alasan pemberian nama P. progenetica, karena ikan ini memiliki karakteristik seperti anak-anak walaupun sudah dewasa (Paedo). Cypris merupakan kependekan dari famili Cyprinidae, sedangkan progenetica merujuk pada karakteristik ikan yang seperti larva.
Panjang ukuran tubuh individu dewasa dari moncong hingga ekor adalah 7,9 mm. Dengan ukuran kurang lebih seukuran nyamuk ini oleh Kottelat dkk dinobatkan sebagai ikan terkecil di dunia sekaligus sebagai hewan vertebrata terkecil di dunia. Dengan ukuran ini berhasil menggeser posisi ikan stout infantfish (Schindleria brevipinguis) yang pada tahun 2004 diumumkan sebagai ikan terkecil di dunia yang panjang rata-rata-nya hanya 7 mm untuk jantan dan betina 8,4 mm.

Beberapa Catatan
Berkaitan dengan laporan penemuan oleh Kottelat dkk tersebut, ada beberapa persoalan yang hendak penulis kemukakan, yaitu :

Pertama, benarkah merupakan ikan terkecil di dunia?
Lima bulan sebelum dipublikasikannya temuan Kottelat dkk tersebut, ternyata dalam jurnal Ichthyological Research, telah dipublikasikan lebih dulu sejenis ikan pengait jantan yang bernama ilmiah Photocorynus spiniceps. Ikan yang dideskripsikan oleh Prof. Ted Pietsch dari Universitas Washington, AS, ditemukan di Filipina dan mempunyai ukuran panjang dari moncong hingga ekor hanya 6,2 mm. Jelas ini merupakan ikan yang lebih kecil ketimbang P. progenetica. Dr. Ralf Britz sendiri kepada BBC News (www.news.bbc.co.uk), mengakui bahwa ketika melakukan penelitian P. progenetica tidak membandingkan dengan P. spiniceps. Adapun alasan yang dikemukakannya adalah tidak mengetahui adanya riset tentang ikan pengait tersebut. Menurut penulis, sepertinya mustahil pakar sekaliber Kottelat dkk yang setiap saat berkutat dengan riset ikan, tidak mengetahui adanya publikasi hasil riset tersebut. Bukankah jurnal Ichthyological Research merupakan bacaan wajib bagi pakar Ichtyology?. Hal yang perlu dicatat juga bahwa selain ukuran panjang, ukuran berat dan volume juga merupakan faktor yang perlu diperhatikan. Kottelat dkk dalam penelitian ini menggunakan patokan panjang sebagai parameternya. Jika demikian, tentu P. progenetica memang lebih kecil. Tetapi dalam hal berat atau volume S. brevipinguis lah yang lebih kecil.
Persoalan lain adalah apakah spesimen yang diteliti merupakan ikan yang sudah mencapai puncak dewasa, dalam artian tidak lagi mengalami pertumbuhan?. Pertanyaan ini penting diajukan, karena dari awal penemuan yang spektakuler ini sudah mengundang banyak perhatian dan ada kecenderungan beberapa data yang disembunyikan, sekedar mencari popularitas.

Kedua, melanggar kode etik keilmuwan
Dalam Kepres No 100/1993 tentang penelitian bagi orang asing dan SK Ketua LIPI No. 3550/A/1998, dijelaskan bahwa setiap orang asing yang melakukan penelitian di Indonesia harus mendapat ijin tertulis dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Kalau tidak, tentu dianggap menyalahi peraturan dan melanggar kode etik keilmuwan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Ruben Silitonga dari Biro Kerjasama dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi LIPI (Sinar Harapan,3/2/2006), bahwa Kottelat dkk tidak pernah mengajukan permohonan penelitian ke institusi tersebut. Permohonan ijin penelitian sebetulnya adalah hal wajar sebagaimana diberlakukan juga di negara-negara lain. Hal ini terkait dalam rangka mengamankan keanekaragaman hayati Indonesia dari pencurian dan keamanan sosial. Meskipun sejak tanggal 21 September 2005 dalam suatu rapat Tim Koordinasi Pemberi Ijin Penelitian bagi orang asing, LIPI telah berupaya untuk memperketat pemberian rekomendasi, pengawasan dan perijinan penelitian bagi peneliti asing, tetapi kenyataan masih kecolongan.

Ketiga, penyelundupan spesimen
Setiap spesimen hasil penelitian seharusnya disimpan di negara asal yaitu di Pusat Penelitian Biologi di Cibinong. Kalau saja Kottelat dkk melakukan ijin, tentu ada prosedur yang mengatur peneliti asing untuk menandatangani material transfer agreement, jadi tidak sembarang membawa spesimen ke luar negeri. Sehingga ketika spesimen tersebut dibawa ke luar negeri oleh Kottelat dkk, maka dianggap sebagai penyelundupan.

Lindungi Ekosistem
Namun demikian lepas dari catatan-catatan penulis di atas, penemuan tersebut telah membukakan mata kita bahwa masih banyak kekayaan alam yang belum terungkap dan belum kita gali secara maksimal. Survey yang telah dilakukan belum lama ini oleh LIPI dan Conservation International di Papua (Kompas, 5/2/2006), membuktikan bahwa hanya dalam satu bulan saja mereka telah menemukan beberapa spesies baru. Kita perlu secara intensif mendata kekayaan keanekaragaman hayati di Indonesia. Sehingga diperoleh gambaran menyeluruh dan memperluas pengetahuan mengenai keanekaragaman hayati yang kita miliki. Jangan sampai keberadaan fauna maupun flora punah lebih dulu tanpa kita tahu keberadaan dan manfaatnya bagi kehidupan manusia.

Ukuran yang mungil dan kemampuan hidup pada daerah-daerah genangan air yang bersifat asam dengan pH 3 – 4,5 merupakan daya adaptasi luar biasa dalam mempertahankan hidup dari ikan tersebut. Sejauh ini kita masih belum tahu manfaat ekonomi keberadaan ikan-ikan tersebut. Tetapi yang pasti sekecil apa pun hewan yang ditemukan tersebut, tentu mempunyai peranan yang sangat penting dalam ekosistem rawa gambut. Rawa gambut merupakan hutan yang bersifat irreversible drying, sehingga apabila terjadi kerusakan, maka gambut tidak bisa dikembalikan lagi ke bentuk semula. Penghancuran rawa gambut di Sumatera saat ini sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Dalam kurun waktu 10 tahun saja terjadi penyusutan hingga 10 persen, di mana saat ini tersisa 6,5 juta hektar saja. Penyusutan tersebut di antaranya disebabkan pengeringan rawa gambut untuk perkebunan dan kebakaran hutan yang rutin terjadi.

Sudah waktunya bagi kita untuk tidak lagi memarginalkan peranan ekosistem rawa gambut.
Walaupun merupakan penelitian illegal, diharapkan hasil penemuan Kottelat dkk menjadi pendorong bagi pemerintah dalam membuat kebijakan yang berpihak pada kepentingan konservasi alam, khususnya ekosistem rawa gambut.

Penulis, adalah pemerhati biodiversitas.

Sunday, February 05, 2006

Penyakit Pilek dan Asma

5 Feb 06 @ Semper

Ruang konsultasi kesehatan di Kompas yang diasuh oleh Dr.Samsuridjal Djauzi, hari ini menjelaskan mengenai hubungan penyakit Pilek dan Asma. Saya perlu menuliskan diblog saya karena kebetulan saya punya penyakit yang hampir mirip dengan yang dijelaskan oleh sipenanya pada rubrik tersebut. Saya memang menderita penyakit pilek alergi. Dan biasanya pilek tersebut akan hilang pada siang hari atau keesokan harinya. Hanya saja pada saat ini justru sudah hampir 1 bulan, penyakit pilek ini tidak kunjung sembuh-sembuh.
Saya memang malas untuk berobat, sehingga waktu itu saya paksakan untuk berobat karena sudah sangat mengganggu pekerjaan saya di kantor. Di RS. THT Proklamasi. Saya diberikan 3 jenis obat yaitu : Velosef , Clarinase, dan Nonflamin.
Kesemuanya sudah saya cek mengenai komposisi dan kegunaan obat tersebut.:
Clarinase
Berisi Loratadine 5 mg dan Pseudoefedrin 120 mg.Loratadine adalah bekerja sebagai antihistamin yang mencegah timbulnyabersin-bersin, pilek, gatal-gatal, mata berair, dan beberapa gejala alergi yang lain.Loratadine dapat menimbulkan rasa ngantuk bagi orang yangsensitif. (Source : http://cybermed.cbn.net.id/konsul2.asp?nomoract=80).
Velosef
Generik : Sefradin. Indikasi : infeksi saluran nafas, dan jaringan lunak yang disebabkan oleh bakteri yang rentan. Kontraindikasi terhadap hipersensitif terhadap Sefalosporin. Efek samping Gangguan saluran pencernaa, reaksi kulit, eosinofilia, pusing, rasa sesak pada dada (Source : http://www.medicastore.com).
Nonflamin
Komposisi : Tiap kapsul mengandung tinoridina-hcl setara dengan tinoridina 50 mg.
Indikasi : untuk peradangan dan anagetik pada gejala-gejala : peradangan karena luka setelah pembedahan, peradangan pada saluran pernapasan bagian atas, rasa nyeri pada rematik menahun.
(Source: http://www.apotikonline.com/product.asp?productid=103&catcode=21000).

Hanya saja setelah beberapa hari menelan obat tersebut, bahkan sampai habisnya penyakit tersebut tidak juga hilang. Selama menggunakan obat tersebut, saya jadi suka sesak napas, batuk-batuk dan mudah masuk angin. Masih belum jelas juga sih, apakah karena pengaruh obat itu, ataukah karena memang saat ini sudah mulai musim hujan. Tetapi ketika saya menuliskan blog ini dan cek kembali ke situs medicastore, ternyata memang efek samping dari obat Velosef adalah dapat menyebabkan sesak napas di dada.

Saya memang sangat alergi terhadap debu, asap rokok, dan udara dingin. Begitu saya menghirup salah satu dari allergen di atas langsung bersin-bersih. Dan selanjutnya timbul cairan di hidung dan hidung menjadi tersumbat. Bersin dan pilek ini biasanya berkurang dengan sendirinya begitu siang hari. Tapi saat ini masalahnya justru tidak menjadi sembuh. Bahkan sudah hamper satu bulan ini.
Menurut Dr. Samsuridjal, ternyata pilek alergis memang berhubungan dengan asma. Bangun malam hari karena batuk atau sesak sangat mungkin karena asma. Mengenai asma ini saya pernah periksakan ke dokter di daerah Grogol, tetapi mereka bilang saya tidak memiliki penyakit asma. Tetapi jika melihat cirri-ciri pada penjelasan tersebut bisa jadi memang saya menderita asma.
Pada asma, pipa saluran napas meradang kronis sehingga menyempit dan terisi cairan yang dikeluarkan selaput lender pipa saluran napas. Akibatnya, penderita merasa sesak karena udara keluar-masuk terhalang. Untuk mengeluarkan dahak dalam pipa saluran napas biasanya penderita mengalami batuk-batuk.
Pengobatan pilek alergis yang baik, selain mengurangi gejala pilek juga akan mengurangi gejala asma. Karena itu pada pilek alergis perlu ditelusuri kemungkinan adanya asma.
Penggunaan obat semprot adalah untuk memperbaiki keadaan radang kronis. Dalam jangka panjang, selaput lender berkurang kepekaannya. Penggunaan semprot ini adalah dalam jangka panjang.
Masih belum jelas, apakah saya memang asma betulan, ataukan karena pengaruh obat Velosef. Sepertinya minggu depan saya perlu cek lagi ke dokter THT.

Saturday, January 28, 2006

Teori Kontroversi Penemu Benua Amerika

28 Jan 06 @ Semper, Malam Tahun Baru Imlek

Jika selama ini orang lebih mengenal Christopher Colombus sebagai penemu Benua Amerika, akhir-akhir ini penemuan tersebut memunculkan sebuah teori kontroversial.
Kontroversi itu bermula dari sebuah buku yang ditulis oleh seorang Sejarahwan sekaligus sebagai ahli kapal selam, Gavin Menzies yang diterbitkan tahun 2003 “ 1421 : The Year China Discovered America (William Marrow / Herper Collins)”. Dijelaskan bahwa orang yang pertama kali menginjakkan kakinya di Benua Amerika adalah orang-orang Cina, bukan Columbus sebagaimana doktrin peradaban barat dan diyakini kebanyakan orang selama ini. Adalah seorang Laksamana Zheng He pada masa Dinasti Ming (1421) ternyata telah berlayar hingga Pantai Timur Amerika, 70 tahun sebelum Christopher Colombus menginjakan kakinya di wilayah itu.

Menzies telah melakukan kajian ini selama lebih dari 14 tahun. Tahun lalu dia mempresentasikannya pada sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Royal Geographical Society di London. Sudah pasti paparannya membuat terperangah semua peserta seminar. Bukan tanpa alasan dia mengemukakan teori kontroversial tersebut. Hal ini dibuktikan dengan : adanya sebuah peta buatan lengkap benua Amerika yang dibuat sebelum Colombus memulai ekspedisinya, adanya beberapa artefak, ditemukannya tengkorak Cina di Amerika oleh peneliti Eropa, serta sebuah peta astronomi milik Zheng He, dan juga bisa dibuktikan dengan teknologi astronomi modern seperti penggunaan software Starry Night.

Terakhir, tulisan Menzies itu ternyata diperkuat oleh seorang pengacara kenamaan dan kolektor, Liu Gang (Kompas, 28 Januari 2006). Dia mengumumkan bahwa ia memiliki peta kuno di mana di bagian bawahnya terdapat catatan kecil yang menjelaskan bahwa peta ini digambar oleh Mo Yi Tong untuk dinasti Qing yang dibuat pada tahun 1763 yang merupakan reproduksi dari peta yang dibuat tahun 1418.

Namun demikian bukti mengenai peta tersebut telah dibantah sebelumnya oleh seorang sejarahwan dari Zhejiang Univerisity, Gong Yingyan (Jawa Pos, 18 Januari 2006). Dia menilai bahwa peta tersebut banyak mengandung kesalahan jika dibuat pada abad ke-15. Sebab menurutnya teknik pembuatan peta dengan teknik tersebut tidak dikenal pada masa itu. Teknik tersebut baru muncul setelah diperkenalkan oleh pembuat peta dari Eropa, jauh setelah abad 15.

Kesalahan lain adalah penggunaan kata “Western God”, di mana kata ini baru digunakan di Cina pada abad 16. Dengan demikian pembuktian mengenai penemuan benua Amerika oleh Laksamana Zheng He dengan menggunakan peta tersebut, adalah suatu kekeliruan.

Sang Penemu yang Apes
Namun demikian lepas dari benar tidak nya teori tersebut, betapa apes nasib seorang Colombus. Sebab sejak awal dia memang sudah kehilangan nama. Sebuah benua yang seharusnya diberi nama Columbia sesuai dengan namanya sebagaimana keputusan pengadilan di Boston tahun 1697, dan juga nama yang disulkan saat Revolusi Amerika bergejolak. Tetapi belakangan malah diberi nama Amerika.

Amerika sendiri mengacu pada nama Americos Verpucci, seorang penjelajah yang juga banyak menolong Colombus termasuk bantuan keuangan untuk keluarganya. Namun lepas dari persoalan di atas, ternyata memang penjelasan Vespucci mengenai benua baru tersebut lebih detil dan popular ketimbang Colombus. Walaupun banyak kalangan mempercayai penjelasan dari Verpucci sebagai pengembangan dari catatan yang dibuat Colombus. Apa lacur, Basin de Sandacourt dan Mathias Ringmann melalui penerbitan peta dunianya pada tahun 1507 telah memproklamirkan bahwa benua keempat itu sebagai tanah Amerika sesuai dengan nama Americus Vespucci.

Siapakah Zheng He?
Bukan saja, sudah kehilangan nama, akhir-akhir ini disebut-sebut bahwa Zheng He lah sang penemu benua Amerika. Zheng He adalah seorang penjelajah ulung, di Indonesia sendiri nama Zheng He lebih dikenal dengan sebutan Ceng Ho. Belum lama kita memperingati 600 tahun pendaratannya di Semarang, suatu acara berskala Internasional karena melibatkan juga negara-negara lain.
Zheng He lahir pada tahun 1371 di Kunyang, di sebelah Barat daya Propinsi Yunan. Yunan adalah daerah pertahanan terakhir Bangsa Mongol, yang sudah ada jauh sebelum masa Dinasti Ming. Sewaktu pasukan Ming menguasai Yunan tahun 1382, Zheng He yang pada waktu itu masih berumur 11 tahun ikut ditawan. Zheng He yang bernama asli Ma Sanbao itu dijadikan sebagai pelayan Putra Mahkota yang bernama Yong Le. yang kelak menjadi Kaisar. Kaisar Yong Le ini lah yang memberi gelar nama Zheng He sehingga akhirnya menjadi panglima termasyur di dunia. Laksamana Zheng He di utus menjadi Pimpinan Ekspedisi Armada Militer Kaisar Yong Le pada masa Dinasti Ming. Ekspedisi yang dimulai sejak tahun 1405 hingga 1430 ini dimaksudkan untuk memperluan persahabatan dan hubungan perdagangan. Namun demikian perlu dicatat di sini adalah bahwa selama 25 tahun ekspedisi ini, Armada Ming tidak pernah menjadi sebuah kekuatan kolonial. Sebuah motivasi yang berbeda dengan ekspedisi orang-orang Eropa. Benar tidaknya teori kontroversial yang dikemukakan oleh Menzies tersebut, perlu ada pembuktian sejarah lebih mendalam yang memerlukan waktu cukup lama.