Sunday, February 05, 2006

Penyakit Pilek dan Asma

5 Feb 06 @ Semper

Ruang konsultasi kesehatan di Kompas yang diasuh oleh Dr.Samsuridjal Djauzi, hari ini menjelaskan mengenai hubungan penyakit Pilek dan Asma. Saya perlu menuliskan diblog saya karena kebetulan saya punya penyakit yang hampir mirip dengan yang dijelaskan oleh sipenanya pada rubrik tersebut. Saya memang menderita penyakit pilek alergi. Dan biasanya pilek tersebut akan hilang pada siang hari atau keesokan harinya. Hanya saja pada saat ini justru sudah hampir 1 bulan, penyakit pilek ini tidak kunjung sembuh-sembuh.
Saya memang malas untuk berobat, sehingga waktu itu saya paksakan untuk berobat karena sudah sangat mengganggu pekerjaan saya di kantor. Di RS. THT Proklamasi. Saya diberikan 3 jenis obat yaitu : Velosef , Clarinase, dan Nonflamin.
Kesemuanya sudah saya cek mengenai komposisi dan kegunaan obat tersebut.:
Clarinase
Berisi Loratadine 5 mg dan Pseudoefedrin 120 mg.Loratadine adalah bekerja sebagai antihistamin yang mencegah timbulnyabersin-bersin, pilek, gatal-gatal, mata berair, dan beberapa gejala alergi yang lain.Loratadine dapat menimbulkan rasa ngantuk bagi orang yangsensitif. (Source : http://cybermed.cbn.net.id/konsul2.asp?nomoract=80).
Velosef
Generik : Sefradin. Indikasi : infeksi saluran nafas, dan jaringan lunak yang disebabkan oleh bakteri yang rentan. Kontraindikasi terhadap hipersensitif terhadap Sefalosporin. Efek samping Gangguan saluran pencernaa, reaksi kulit, eosinofilia, pusing, rasa sesak pada dada (Source : http://www.medicastore.com).
Nonflamin
Komposisi : Tiap kapsul mengandung tinoridina-hcl setara dengan tinoridina 50 mg.
Indikasi : untuk peradangan dan anagetik pada gejala-gejala : peradangan karena luka setelah pembedahan, peradangan pada saluran pernapasan bagian atas, rasa nyeri pada rematik menahun.
(Source: http://www.apotikonline.com/product.asp?productid=103&catcode=21000).

Hanya saja setelah beberapa hari menelan obat tersebut, bahkan sampai habisnya penyakit tersebut tidak juga hilang. Selama menggunakan obat tersebut, saya jadi suka sesak napas, batuk-batuk dan mudah masuk angin. Masih belum jelas juga sih, apakah karena pengaruh obat itu, ataukah karena memang saat ini sudah mulai musim hujan. Tetapi ketika saya menuliskan blog ini dan cek kembali ke situs medicastore, ternyata memang efek samping dari obat Velosef adalah dapat menyebabkan sesak napas di dada.

Saya memang sangat alergi terhadap debu, asap rokok, dan udara dingin. Begitu saya menghirup salah satu dari allergen di atas langsung bersin-bersih. Dan selanjutnya timbul cairan di hidung dan hidung menjadi tersumbat. Bersin dan pilek ini biasanya berkurang dengan sendirinya begitu siang hari. Tapi saat ini masalahnya justru tidak menjadi sembuh. Bahkan sudah hamper satu bulan ini.
Menurut Dr. Samsuridjal, ternyata pilek alergis memang berhubungan dengan asma. Bangun malam hari karena batuk atau sesak sangat mungkin karena asma. Mengenai asma ini saya pernah periksakan ke dokter di daerah Grogol, tetapi mereka bilang saya tidak memiliki penyakit asma. Tetapi jika melihat cirri-ciri pada penjelasan tersebut bisa jadi memang saya menderita asma.
Pada asma, pipa saluran napas meradang kronis sehingga menyempit dan terisi cairan yang dikeluarkan selaput lender pipa saluran napas. Akibatnya, penderita merasa sesak karena udara keluar-masuk terhalang. Untuk mengeluarkan dahak dalam pipa saluran napas biasanya penderita mengalami batuk-batuk.
Pengobatan pilek alergis yang baik, selain mengurangi gejala pilek juga akan mengurangi gejala asma. Karena itu pada pilek alergis perlu ditelusuri kemungkinan adanya asma.
Penggunaan obat semprot adalah untuk memperbaiki keadaan radang kronis. Dalam jangka panjang, selaput lender berkurang kepekaannya. Penggunaan semprot ini adalah dalam jangka panjang.
Masih belum jelas, apakah saya memang asma betulan, ataukan karena pengaruh obat Velosef. Sepertinya minggu depan saya perlu cek lagi ke dokter THT.